*Jangan membicarakan fakta kejelekan si anu tanpa sepengetahuan si anu. Itu namanya غيبة؛ atau ngerasani.
*Atau membicarakan kejelekan si anu yang bukan fakta. Itu namanyaبستان ؛ atau mengada-ngada.
Atau mengungkapkan kejelekan si anu kepada si anu secara langsung. Itu namanya شتم ؛ atau misuh.
ketiganya (غيبة,بستان,شتم) banyak terjadi di dunia maya dan nyata dan di dalam keluarga.
Allah berfirman;
ولا يغتب بعضكم بعضا، أيحب أحدكم أن يأكل لحم أخيه ميتا (الحجرات أية ١٢)
Allah berfirman kepada nabi musa;
•من مات تائبا من الغيبة فهو آخر من يدخل الجنة ومن مات مصرا عليها فهو أول من يدخل النار•
"Siapa yang meninggal dalam keadaan bertaubat dari melakukan ghibah maka dia adalah orang yang terakhir masuk surga. Dan siapa yang meninggal dalam keadaan melakukan ghibah maka dia adalah orang yang pertama masuk neraka".
Ada dua kisah menarik tentang tema ini.
Dua kisah ini berasal dari 2 tokoh sufi besar yang sempat terekam dalam buku Risalah Qusyairiyah.
Kisah pertama dari kisah waliyullah besar Ibrahim bin Adham (رحمه الله).
Pada suatu ketika Ibrahim bin Adham mendapatkan undangan, beliau menghadiri undangan tersebut•
Ditengah- tengah acara berlangsung ada beberapa orang yang merasani satu orang karena tidak menghadiri acara undangan tersebut. Mereka para penggunjing itu berkata
"dia orangnya memang menyusahkan (susah untuk menghadiri acara undangan)".
Mendengar obrolan itu beliau Ibrahim bin Adham berkata:
إنما فعل بي هذانفسي، حيث حضرت موضعا يغتاب فيه الناس
"Sungguh saya telah ikut melakukan kegiatan merasaninya ini. Hal itu terjadi karena saya ikut datang di tempat yang isinya adalah merasani orang lain"•
Kemudian Ibrahim bin Adham pulang meninggalkan kumpulan orang yang bergosip tadi. Dari kejadian tersebut Ibrahim bin Adham tidak makan selama tiga hari.
Menurut pemahaman saya, Ibrahim tidak makan selama tiga hari hanya karena tidak sengaja duduk berkumpul di tempat yang isinya berupa kegiatan merasani adalah karena beliau mengetahui bahwa bergosip sama seperti memakan bangkai orang yang dirasani. Jadi dengan berpuasa tidak makan tiga hari seakan beliau hendak membersihkan tubuh beliau dari kotornya memakan daging bangkai yang telah dimakannya karena telah berkumpul dengan orang-orang yang sudah merasani orang lain•
Dari kisah ini kita jadi tahu bukan cara bersikap yang baik ketika berhadapan dengan orang yang punya kebiasaan merasani orang lain?
Kisah kedua datangnya dari Imam Junaid seorang waliyullah besar (رحمه الله). Beliau menceritakan sendiri kisah ini•
Suatu hari Imam Junaid duduk di Masjid asy-Syuniziyyah bersama penduduk lainnya• Mereka sedang menunggu jenazah yang hendak dishalati. Kemudian pandangan Imam Junaid menangkap, seseorang yang tampaknya ahli ibadah terlihat sedang meminta-minta.
Melihat kejadian itu sontak hati kecil Imam Junaid berbisik
"Andai saja orang ini melakukan pekerjaan yang menghindarkannya dari perbuatan meminta-minta maka hal itu tentu lebih baik,"
Kemudian Imam Junaid pulang dari masjid itu disertai kejadian aneh yang menghinggapinya. Tiap malam beliau memiliki kebiasaan wiridan, shalat dan munajat sampai menangis. Tapi, kali ini ia benar-benar sangat berat melaksanakan semua wiridnya.
Ulama yang masyhur dengan Abul Qasim ini justru hanya mampu begadang sambil duduk hingga rasa kantuk membuat beliau lelap dalam tidur. Dalam tidur orang fakir yang ia jumpai meminta-minta tadi datang dalam mimpinya. Yang mengejutkan adalah karena dalam mimpi itu si pengemis digotong para penduduk Bagdad lalu menaruhnya di atas meja makan yang panjang.
Orang-orang berkata kepada Imam Junaid, "Makanlah daging orang fakir ini. Sungguh kau telah merasaninya."
Imam Junaid sontak terkejut heran. Ia merasa tidak pernah merasani pengemis itu. Sampai akhirnya beliau mulai sadar bahwa ia pernah merasaninya dalam hati mengenai pekerjaaanya yang meminta-minta.Dalam mimpi itu Imam Junaid diminta untuk meminta maaf atas perbuatannya.
Semenjak itu Imam Junaid bekerja keras mencari ke semua tempat agar bisa menjumpai si fakir dan meminta maaf . Berulang kali ia tidak berhasil menjumpainya, hingga suatu ketika Imam Junaid melihatnya sedang mengambil dedaunan di atas sungai untuk disantapnya. Daun-daun itu merupakan sisa sayuran yang jatuh saat dicuci.
Langsung Imam Junaid menyapanya dan tanpa disangka muncul kata-kata balasan dari si fakir itu
"Apakah engkau hendak mengulanginya lagi wahai Abul Qasim?"
"Tidak." Jawab imam Junaid
"Semoga Allah mengampuni diriku dan dirimu" kata si fakir.
Demikian dua kisah dari 2 tokoh sufi tentang ghibah dan dampaknya.
Memang lidah dan jari-jari seringkali menjadi pasukan yang sangat lincah untuk mengikuti perintah sang raja yaitu (غيبة,بستان,شتم).
Hati-hati ya mending memilih diam (سكوت).
Apakah Anda sependapat?
Oleh; @mahrus as
Sumber; Nashoihu al'ibaad dan Risalah Qusyairiyah•
بستان dibaca bastan atau apa?
BalasHapusApa arti Ngerasani dalam bahasa indonesia?
Apa arti misuh?