Ketika menafsirkan ayat berikut dalam surat al Baqarah (الذين يؤمنون بالغيب) : orang-orang yang beriman kepada yang ghaib, maka Ibnu Arabi berkata bahwa iman terbagi menjadi 2 bagian. 1. Taqlidi. 2. Tahqiqi.
Iman tahqiqi terbagi 2 yaitu istidlali dan kasyfi. Keduanya ada yang butuh kepada batas ilmu dan kegaiban dan ada yang tidak butuh.
Yang butuh kepada batas ilmu dan kegaiban disebut dengan (علم اليقين).
Atau dalam bahasa awam saya ilmul yaqin ini adalah keyakinan terhadap sesuatu yang disebabkan karena kita mengetahui sesuatu itu walaupun pengetahuan itu tanpa kita mengetahui atau menyaksikan langsung akan tetapi pengetahuan itu didapat dari kabar baik kabarnya datang dari al quran, hadits nabi atau dari perkataan orang yang pernah menyaksikan langsung sesuatu itu. Cerita tentang sakitnya melahirkan anak bagi seorang ayah adalah ilmul yaqin.
Adapun yang tidak butuh terhadap batas ilmu dan kegaiban ada 2 yaitu (عين اليقين)
dan (حق اليقين), manyaksikan dzat.
Yang termasuk pada firman Allah di atas adalah (علم اليقين) tadi, bukan yang (عين اليقين) dan (حق اليقين). Karena hal yang gaib bagi (علم اليقين) maka hal itu bukanlah hal yang gaib lagi bagi (عين اليقين) dan (حق اليقين). Sakit nya melahirkan bagi ibu yang melahirkan Caisar barangkali adalah (عين اليقين) sedangkan sakit nya melahirkan bagi ibu yang melahirkan normal barangkali adalah (حق اليقين).
Ibnu Arabi juga menyebutkan bahwa kebahagiaan ada tiga. Kebahagiaan hati, kebahagiaan badan dan kebahagiaan di luar badan.
Kebahagiaan hati seperti pengetahuan, kebijaksanaan, kesempurnaan ilmu, kesempurnaan amal, dan kesempurnaan penciptaan.
Kebahagiaan badan seperti kesehatan, kekuatan, kelezatan jasmani dan syahwat.
Kebahagiaan di luar badan seperti harta.
Komentar
Posting Komentar