Ketika menafsirkan ayat berikut dalam surat Al Baqarah (الٓم ذالك الكتاب), Ibnu Arabi menafsiri (ا) dalam (الٓم) dengan Allah sebagai (أول الوجود). Adapun (ل) ditafsiri dengan intelek yang bekerja (العقل الفعال) yang disebut Jibril, sebagai (أوسط الوجود), agennya Allah untuk menyampaikan pesan ketuhanan. Sedangkan (م) ditafsiri dengan Muhammad (أٓخر الوجود) sebagai nabi yang akan meng eksekusi, mempraktekkan pesan2 ketuhanan yang disampaikan jibril.
Karena kata Ibnu Arabi ilmu tidak sempurna dan paripurna kecuali dipraktekkan, dan yang mempunyai tugas mempraktekkan pesan ketuhanan adalah nabi Muhammad.
Inilah yang dimaksudkan Ibnu Arabi dengan pernyataan beliau berikut:
لا يحصل الإسلام بمجرد قول لاإله إلا الله إلا إذا قرن بمحمد الرسول الله.
Islam tidak akan berhasil jika hanya melulu لاإله إلا الله kecuali jika itu disertai dengan محمد الرسول الله.
Etika Berhubungan Badan Untuk mengungkapkan kata hubungan badan (jimak ) Al Qur'an menggunakan istilah mubaasyaroh (مباشرة) seperti pada ayat berikut: ولا تباشروهن وأنتم عاكفون فى المساجد. Islam memandang penting kenyamanan seksual (tentu dengan cara yang halal). Akan tetapi Islam memberikan etika etika khusus dan nasehat berharga mengenai hal itu diantaranya: 1. Mengingat / atau menyebut nama Allah. Hal demikian seperti pernah disabdakan oleh nabinya islam seperti berikut: لو أن أحدكم إذا أرد أن يأتي أهله أن يقول: بِسْمِ الل...
Komentar
Posting Komentar